11/23/2009

SA'AH, BUKAN QIYAMAH

Ada prakiraan mengatakan kiamat akan terjadi bulan Desember 2012. Prakiraan ini ramai diperbincangkan orang di media masa cetak, media elektronik dan lain-lain. Sebelumnya sudah sering terdengar kabar burung yang memprediksikan bahwa kiamat akan terjadi pada waktu tak lama lagi. Ada yang bersumber dari peramal, ada yang konon bersumber dari penjaga pintu makam Nabi Muhammad dlsb. Karena sudah sering kali timbul, buletin Tafsir kali ini mengajak pembaca untuk menelaah pokok-pokok masalah berkenaan kiamat sesuai ajaran al-Qur’an, agar pemahaman tidak melenceng dan akidah tidak goyah gara-gara berbagai perkiraan atau berita burung.

Meluruskan Pengertian
Dalam al-Qur’an terdapat 71 buah kata yaum al-Qiyamah. Artinya Hari Kiamat.
Tidak ada kata al-Qiyamah yang berdiri sendiri , melainkan selalu didahului kata yaum sebagai mudhof, dan kata al-qiyamah sebagai mudhofun ilaih. Yaum al-Qiyamah itu menunjuk waktu yang berlangsung lama tidak sekedar sehari yang 24 jam bisa ribuan tahun. Yaum al-Qiyamah itu berlangsung bisa ribuan tahun. “ ..Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitungan kamu” (Terj Qs.22:47) Sehari Hari Kiamat itu ialah kurun waktu terjadinya perubahan dan kehancuran benda-benda alam semesta ini. Perubahan dan kehancuran itu bukannya terjadi dalam waktu sehari 24 jam, dan bukan pula mendadak. Perubahan dan kehancuran itu akan terjadi bertahap-tahap. Selama Hari Kiamat itu langit 7 lapis, langit dunia, galaksi-galaksi, bintang-bintang dan bumi dengan segala isinya akan diubah dan dihancurkan, dan kemudian disusun kembali menjadi alam baru. Pada hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa (di Bumi dan di Langit baru itu). (Qs.Ibrahim/14:48). Bumi dan Langit yang ada sekarang disebut Alam Dunia, dan Bumi baru serta Langit baru itu nanti disebut Alam Mahsyar. Jika dicermati ayat-ayat al Qur’an yang mengandung kata-kata yaum al-Qiyamah yang 71 itu, dapatlah dimengerti bahwa istilah Hari Kiamat mencakup macam-macam hari, yaitu :

1. hari kehancuran langit dan bumi ini total (yaum al-qiyamah)
2. hari kebangkitan manusia sebelum menuju Alam Mahsyar (yaum al ba’tsi)
3. hari keberangkatan manusia menuju Alam MAhsyar (yaum al hasyr)
4. hari pengumpulan manusia menuju Alam Mahsyar (yaum al jam’i)
5. hari pengelompokam manuisia di Alam Mahsyar (yaumun majmu)
6. hari ketakutan di Alam Mahsyar (yaum at-Taghabun)
7. hari perhitungan amal di Alam Mahsyar (yaum al-hisab)
8. hari pembobotan amal di Alam Mahsyar (yaum al -wazni)
9. hari keputusan di Alam Mahsyar (yaum al -fashli)
10.hari kekal manusia di Alam Mahsyar (yaum al -khulud)

Sepuluh macam hari ini mempunyai bagian-bagian pula. Sepuluh macam hari ini disebut Hari Agama (Yaumu’d diin). Sebelum hari kehancuran langit dan bumu ini secara total kita mengalami 7 hari yang silih berganti yakni Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at dan Sabtu. Tujuh hari ini disebut Hari Dunia alias Hari Bumi, ditandai terbit dan tenggelamnya matahari. Diantara 7 hari dunia itu pasti ada hari akhir (al yaum al akhir), yakni hari akhirnya setiap orang, yaitu hari kematiannya. Kemudian seseorang atau beberapa orang atau sejumlah besar orang atau punahnya semua manusia dari mulai bumi ini pada waktunya itu disebut Sa’ah sebagai mana ditunjuk oleh ayat-ayat al-qur’an, antara lain surat 6 : 31 dan 40; surat 7 : 187; surat 12 :107; surat 15 : 85; surat 16:77; surat 18 : 21; surat 19 : 75; surat 20 : 15; surat 21 : 49; surat 22 : 1,7 dan 55; surat 25 : 11; surat 30 : 12, 14, 55; surat 31 : 34; surat 33 : 63; surat 41 : 47; surat 42 :17-18; surat 43 : 61, 66, 68; surat 45 : 27, 32; surat 47 : 18; surat 54 : 46; dan surat 79 ayat 42. Kehancuran atau perubahan benda-benda alam tertentu pada waktu tertentu disebut dengan bermacam sebutan seperti al Qari'ah, zalzalah, shookhoh, thoommah dan lain sebagainya.
Selama ini terdapat kerancuan di kalangan kaum muslimin. Kerancuan yang pertama terletak pada istilah ‘kiamat’ yang diartikan kehancuran benda-benda alam mendadak dalam waktu satu hari saja. Bumi, langit, bintang-bintang akan serentak hancur pada hari itu. Yang kedua menyamakan ‘kiamat’ yang diartikan peristiwa kehancuran mendadak itu tadi dengan yaum al-qiyamah yang berkonotasi babak-babak waktu. Kiamat dengan yaum al-qiyamah, dicampur adukkan. Ketiga menyamakan ‘kiamat’ dengan ‘Sa’ah’, sehingga hampir semua kata Sa’ah dalam al Qur’an dan Hadits diartikan ‘kiamat’, padahal kiamat itu berproses, sedangkan sa’ah mendadak (baghtatan). Apa yang disebut-sebut sebagai kiamat selama ini seharusnya diganti dengan sebutan Sa’ah, sebab langit dan bumi ini baru mengalami perubahan dan kehancuran sebagaian-sebagian saja, belum hancur total.

Tahun 2012 Itu Sa’ah
Sekarang bulan November 2009. Kalau kiamat akan terjadi tahun 2012, itu berarti 3 tahun kedepan. Jika dihitung dari hari Jum’at tgl. 27 November 2009 ini, itu berarti akan terjadi pada ± 1.100 an hari lagi. Apa sajakah yang akan dialami oleh benda-benda di bumi, benda-benda di langit dan benda-benda di alam raya ini dalam kurun waktu 1.100 an hari kedepan itu?
Yang sudah, sedang, dan akan terjadi ialah perubahan-perubahan bertahap, bergilir dan berkelanjutan. Gempa-gempa tektonik, gempa-gempa vulkanik, tanah longsor, banjir, angin puting beliung, bermacam-macam badai, pasang naik dan pasang surut air laut perubahan-perubahan evolusif pada benda-benda langit dan galaksi-galaksi, merosotnya kadar panas matahari, kematian manusia dan kelahiran bayi-bayi dan lain-lain. Tidak satupun dapat kita pastikan detik kapan atau menit kapan akan terjadinya.. Hanya Allah yang tahu pasti detik dan menitnya (innamaa ‘ilmuhaa ‘inda ’l-laah), dan bagi kita mungkin dirasakan mendadak (baghtatan). Karena tidak dapat dipastikan dan kemungkinan mendadak, maka itu disebut Qur’an dengan istilah Sa’ah, bukan qiyaamah. Dan tak ada satu negeri pun, melainkan Kami membinasakannya sebelum Hari Kiamat.. (Qs.17 : 58). Termasuk semua manusia penghuninya. Hari kiamat akan terjadi pada waktu dimana tidak ada lagi manusia yang hidup di bumi ini, manusia sudah punah. Sa’ah terjadi selagi manusia masih menghuni bumi ini. Hari Kiamat itu diterangkan panjang lebar dalam puluhan ayat al-Qur’an, dan tidak dinyatakan sebagai ‘rahasia’ yang hanya diketahui Allah. Yang dirahasiakan ialah Sa’ah, sebagaimana di jelaskan dalam surat 7 ayat 187 dan surat 33 ayat 63.
Maka dapatlah dipastikan, secara ilmul yaqin, bahwa di tahun 2012 belum dan tidak akan terjadi Hari Kiamat dan Kiamat. Sebaliknya yang terjadi hanyalah Sa’ah. Dari dulu hingga detik ini pun telah terjadi sa’ah-sa’ah, berupa kematian manusia atau pun perubahan-perubahan pada benda-benda alam. Inilah sikap dan hujjah yang harus difahami dan dipegang oleh setiap muslim ketika menghadapi berbagai isu kiamat, baik yang datang dari orang-orang kafir maupun yang datang dari orang-orang Islam yang tidak faham atau salah faham. Inilah pula dari hujjah yang harus difahami dan dipegang oleh setiap muslim menghadapi orang yang tidak beriman kepada keterangan ayat-ayat al Qur’an.

Problem Internal
Bukan soal kiamat 2012 yang seharusnya diramaikan perbincangannya, dan bukan pula perbincangannya itu yang mengheranklan, melainkan jauh lebih mendasar daripada itu, yaitu salah-faham umat Islam tentang akidah Islam mengenai Hari Kimat dan kemudian umat ini dalam kungkungan taklid buta sehingga lelap dalam keadaan yang fatal berabad-abad. Itu semua disebabkan sikap ‘kufur juhud’ atau ‘kufur ‘aniid’ terhadap ayat-ayat al-Qur’an. Kufur juhud’ atau ‘aniid’ itu disebabkan oleh cara fikir barat atau cara fikir timur atau cara fikir liberal. Cara-cara fikir yang dipakai itulah membuat ini umat tidak faham jiwa dan cita al-Qur’an. Demikian kesimpulan (alm) Dr. Muhammad Iqbal dalam bukunya ‘Membangun Kembali Pikiran Agama Dalam Islam’. Umat ini disesatkan tanpa sadar oleh pikiran klasik yang mengaburkan jiwa Islam. Umat ini terperosok dalam pikiran materialistic yang tentu saja mengandung atheisme, kata beliau.
Perbaikan akidah agaknya masih jauh, terlebih kalau Departemen Agama RI membiarkan saja kerancuan antara Sa’ah dan kiamat. Kata ‘Sa’ah diartikan Hari Kiamat 19 kali, diartikan ‘kiamat’ 10 kali, diartikan Hari Bangkit 5 kali, diartikan’kematian’ 1 kali, dan diartikan ‘kebangkitan 1 kali dalam terjemahan al-Qur’an Dep.Agama. Yang mana yang benar?. Bahkan pada ayat 46 surat al-Qomar atau diartikan hari kiamat dan satunya lagi diartikan kiamat. Ini menunjukkan adanya keraguan dan mengakibatkan kesalahan.

Hafid A. Ghani
TAFSIR BULETIN DAKWA Edisi : 8/1/27-11-09

11/04/2009

SEKILAS TENTANG SYI'AH..

Asal tahu saja, bahwa sang deklarator agama Syi'ah adalah Abdullah bin saba' ; seorang gembong yahudi yang berpura- pura masuk Islam di zaman ke khalifahan Utsman bin Affan. Dengan kedok kecintaan kepada Ali, ia mulai menyebar jentik-jentik kesesatan di tengah kaum Muslimin waktu itu. Keberadaan Abdullah Bin Saba' sebagai seorang yahudi, diakui sendiri oleh petinggi-petinggi Syi'ah dalam buku-buku mereka seperti " Firaq Asysyi'ah" (halaman.43-44,cetakan Al- Haidaryah, Najef 1379 h), begitu pula dalam kitab mereka yang tersohor" Rijal- Al-Kasysyi" ( halaman 101 Mu'assasah al- A'lami. Karbala Iraq).
Syi'ah dan yahudi adalah " dua sejoli" yang sangat lengket dan mesra .
berikut adalah beberapa kemiripan diantara mereka berdua:

1. Yahudi telah mengubah-ubah Taurat, Begitu pula syi'ah ; mereka mempunyai Al-Qur'an sendiri hasil kerajinan tangan mereka sendiri yakni" Mushaf Fathimah" yang tebalnya 3 kali Al- Qur'an kaum muslimin. Mereka menganggap ayat Al-Qur'an yang diturunkan berjumlah 17.000 ayat, dan menuduh Sahabat menghapus sepuluh ribu lebih ayat ( hanya kelompok Syi'ah yang extrim saja yang meyakini bahwa Al-Qur'an Syi'ah beda dengan Al-Qur'an Ahlus sunnah)
2. Yahudi menuduh Maryam yang suci Berzina ( Maryam: 28), Syi'ah melakukan hal yang sama terhadap istri Nabi, Rosulullah Ummul Mu'minin 'Aisyah RA, sebagai mana di Ungkapkan Al- Qummi( Pembesar Syi'ah) dalam tafsir Al- Qummi( II 34)
3. Yahudi mengatakan" kami tidak akan disentuh oleh api neraka melainkan hanya beberapa hari saja " Al- Baqarah ayat 80 . Syi'ah lebih dahsyat lagi mengatakan, " api neraka telah diharamkan membakar setiap orang Syi'ah" sebagaimana tercantum dalam kitab mereka yang di anggap suci" Fashl Khitab Halaman 157".
4. Yahudi meyakini bahwa, Allah mengetahui sesuatu setelah sebelumnya tidak tahu, begitu juga dengan Syi'ah.
5. Yahudi berkeyakinan bahwa ucapan " amin" dalam shalat adalah membatalkan shalat. syi'ah Juga beri'tiqad yang sama. Yahudi keluar dari shalat tanpa salam, cukup dengan mengangkat tangan dan memukulkan pada lutut. Syi'ah juga mengamalkan hal yang sama. Mereka menghalalkan darah Ahlussunah.( Lihat kitab Badzl Al- Majhud Fi Itsbat Musyabahah Ar-Rafidhah Lil Yahud, Oleh Abdullah Al- Jumaily)

Ahmad bin Yunus ( wafat 227 H) salah seorang tokoh Ahlussunnah di Kufah telah berkata" seandainya; seorang Yahudi menyembelih seekor binatang, dan seorang Rafidhi menyembelih seekor binatang. Niscaya aku hanya memakan sembelihan si Yahudi, dan Aku tidak mau memakan sembelihan si Rafidhi karena dia telah murtad dari Islam ( namun masih mengaku Islam red) " ( Ash- Sharimul Maslul, hal.570).
Imam Bukhari berkata: " Bagiku sama saja, apakah aku shalat di belakang orang yang berfaham Jahmiyah atau Syi'ah Rafidhah, atau aku shalat dibelakang orang Yahudi atau Nashrani ( maksudnya sama-sama tidak boleh) dan seorang muslim tidak boleh memberi salam kepada mereka, sebagai saksi, dan memakan sembelihan mereka" ( Khalqu Af'alil' Ibad halaman 125, Karya Imam Bukhari)

Syakh Islam Ibnu Taimiyah Berkata: "Orang Yahudi dan Kristen lebih utama dari orang Rafidhah dengan satu sifat yaitu" :
- Orang yahudi jika di tanya; sipakah orang yang terbaik dikalangan pemeluk agamamu? mereka menjawab: sahabat-sahabat Musa.
- Orang Kristen jika di tanya; siapakah orang yang terbaik dikalangan pemeluk agamamu? mereka menjawab: Hawari ( sahabat-sahabat) Isa.
- Orang Rafidhah jika di tanya; sipakah orang yang terburuk dikalangan agamamu? mereka menjawab: sahabat-sahabat Muhammad (Minhaajul Sunah, oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah : 1/24).
- Yahudi tidak menetapkan adanya jihad hingga Allah mengutus Dajjal. Syi’ah Rafidhah mengatakan,”tidak ada jihad hingga Allah mengutus Imam Mahdi datang. [kitab Badzl Al-majhud fi Itsbat musyabahah Ar-Rafidhah li Al-Yahud , oleh Abdullah Al-jamili] Ini adalah setetes air dari luasnya samudra tentang kemiripan mereka dengan Yahudi, karena sesungguhnya Syi’ah merupakan aqidah campuran dari Yahudi, Nashrani, Persi (Majusi), Romawi dan Hindu. Mereka aduk unsur-unsur itu bagaikan adonan lalu dituangkan dalam satu cetakan kemudian diletakkan dalam suatu kemasan dan disajikan dengan nama “Syi’ah”.Maka jelaslah sudah, sebagaimana jelasnya mentari yang tak diselimuti awan bahwa “ Syi’ah adalah Yahudi dan Yahudi adalah Syi’ah”.

[Disalin dari Risalah Dakwah Al-Hujjah, Edisi Khusus/Rabi'ul Akhir/1424H Islamic Center Al-Hunafa' Masjid 'Aisyah Lt II, Jl Soromandi No.1A Lawata - Mataram Tlp 0370-642405] Komunitas Dudung.Net & Baitullah blogspot

Ibnu Sharif

10/31/2009

LIMA ALTERNATIF TUHAN

sesungguhnya Aku adalah Allah . Tiada tuhan selainKu maka sembahlah Aku...."( terjemah QS 20: 14)
Al- Qur'an telah menjelaskan sejarah dan inti keimanan dan peribadatan manusia sejak Adam As hingga akhir zaman. Keimanan dan peribadatan tersebut dimaksud di golongkan kedalam dua faham ke agamaan. yaitu faham tauhid dan faham syirik, dilengkapi dengan alasan alasan , maksud-maksud, dan tujuan-tujuannya masing-masing. Menurut Al-Qur'an alasan-alasan kaum penganut faham syirik adalah: tradisi turun-temurun, pendapat pribadi, atau ajaran orang lain yang diikuti karena keahlian, kehebatan, kesaktian,atau kesuciannya.

Meski ada perbedaan mendasar antara penganut tauhid dan penganut syirik, tapi secara manusiawi maksud yang terkandung dalam keimanan dan ibadah kedua pihak ini relatif sama, yaitu membuktikan kehambaan dirinya di hadapan tuhan yang diyakini dan di sembahnya itu.

Mengimani Tuhan tertentu, berarti memilih tempat tunduk dan patuh sepenuhnya. Ketundukan dan Kepatuhan dilahirkan dalam bentuk penyembahan . Penyembahan berisikan rasa takluk dan rasa ketergantungan , kerendahan martabat, dan harapan-harapan. Tujuan akhir penyembahan itu menyelamatkan, membahagiakan, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup sekarang dan masa yang akan datang.

Walaupun semula peribadatannya itu dimaksud untuk menyenangkan Tuhannya, tapi akhirnya ternyata kepentingan si penyembahlah yang paling utama. seolah-olah si penyembah berkata" Ya Tuhan aku MenyembahMu, maka selamatkan dan bahagiakan daku, penuhilah semua kebutuhan hidupku Ya Tuhanku aku bertuhan kepadaMu, Maka berbuatlah sesuai harapanku, janganlah engkau mengecewakan aku'.
Dari itu dapat di pahami bahwa,manusia di muka bumi ini merupakan pusat berbagai keinginan dan harapan dimana Tuhan dan alam di anggap saling berkewajiban memenuhinya, itulah manusiawinya dan begitulah Qodarnya. Tak ada perbedaan pendapat dan perdebatan mengenai kenyataan ini.

Akan tetapi Ketika mengkaji dan memahami diri Tuhan yang di sembah oleh masing-masing terjadilah perbedaan dan perdebatan berkepanjangan: apakah benar Tuhannya itu merupakan pemberi rezeki, maha Penyelamat, maha pembahagia, Maha pengasih Dst ataukah tidak?, Logiskan seorang penyembah mengajukan berbagai permohonan kepada suatu Tuhan yang hanya bisa menerima dan mendengar harapan hambanya, tapi tak kuasa untuk memenuhinya, dan tak mengetahui secara rinci isi harapan-harapan di maksud? bisakah diterima akal kalau Tuhan tersebut hanya Kuasa, Mengetahui, esa Dst. tapi dia Buta, Tuli, bodoh dan lemah di hadapan hamba-hambanya? benarkah Tuhan dimaksud bersifat serba Maha, tapi tidak hidup alias mati?.

Banyak sekali segi-segi yang menjadi bahan pemikiran dan perdebatan bekenaan dengan diri Tuhan-tuhan itu. Akibatnya timbul bermacam-macam kesimpulan. berbagai akidah, berbagai dugaan, dan tentu saja berbagai Tuhan, maka mereka pun menyembah dan beribadah kepada tuhannya masing-masing.

Allah SWT

Meski banyak manusia tidak mau mempertuhankanNya dan kufur kepadaNya namun Allh SWT tidak terganggu sedikit pun. Allah telah menyatakan diriNya pencipta segala makhluk yang sudah diciptakannya ( Maakaana) dan sebagai pencipta apa-apa yang akan diciptakanNya ( maa yakuunu). Penyebahan manusia kepadaNya tidak lah menyebabkan dia memperoleh kelebihan apa-apa . sebaliknya ketidak-sudian manusia terhadap ketuhananNya pun tidak mengakibatkan kekuranga apa-apa padaNya.

Allah adalah Tuhan yang maha mengetahui segala sesuatu yang ada, dan maha mengetahui segala sesuatu yang dianggap tiada oleh Manusia. Dia maha mengetahui Kebodohan hamba-hambanNya yang bodoh. dia maha mengetahui kepintaran-kepintaran Hamba-hambaNya yang pintar. Begitulah seterusnya . Allah SWT memerintahkan segenap manusia agar menuhankan dan beribadah kepdaNya semata-mata. untuk ini ia ia berfirman:

Wahai Manusia! sembahlah Tuhan kamu ( Allah) yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu ( terj. QS 2:21)

Setiap manusia diperintahkan Allah menyembah KepadaNya. Bukan karena apa-apa , melainkan Karena Allah itulah Tuhan manusia yang sesungguhnya, dan karena setiap manusia pasti akhirnya kembali jua KepadaNya. perintah agar manusia menyembah Allah di amanatkanNya pula kepada para Rosul dan Nabi. Rosulullah Hud, Saleh, Syuaib dan lain lain mendapat perintah agar menyeru manusia menyembah Allah dan jangan sampai menyembah tuhan-tuhan yang tidak sesungguhnya.

Jadi perbedan tuhan Allah dengan tuhan-tuhan Lain, terutama sekali terletak pada adanya perintah menyembah diriNya dan adanya Larangan menyembah selainNya. Allah SWT aktif memberikan perintah dan memberikan Larangan

JIN

Di alam Akhirat nanti Allah SWT akan menanyai para malaikatnya " apakah ada diantaranya .golongan manusia di mahsyar ini menyembah kalian ,wahai malaikat? para malaikat menjawab:

"mereka itu ( malaikat ) menjawab Maha Suci engkau , Engkaulah pelindung kami dan bukan mereka, sebenarnya mereka itu ( manusia) telah menyembah jin . banyak diantaranya yang beriman kepada Jin-jin itu". Terj. QS 6: 100.

Data tentang golongan Jin ini dapat di baca dalam Al- Qur'an surat al- Jin, al-Hijr ayat 27, ar-Rahman ayat 15, al- An'am ayat 100 Dll.

Dalam surat al- Jin diterangkan bahwa bangsa jin terdiri dua golongan , yaitu Jin kafir dan jin beriman kepada Al- Qur'an dan Rosulullah Muhammad Saw. yang beriman di sebut Jin Solihun , sedang yang kafir di sebut Qositun . Sebelum rosulullah Saw di utus sebagai Rosul Jin-jin itu bisa naik kelangit dan duduk-duduk disana untuk mendengar cerita dari penghuni langit. tapi hal itu terhenti sejak Nabi Muhammad diutus sebagai Rosul . Jin-jin itu di ciptakan Allah dari panasnya api.

Meskipun tegas sekali bahwa bangsa jin adalah ciptaan Allah , Tapi ternyata ada juga manusia yang mempertuhakan salah satu jin-jin itu. Mula-mula ia Berteman dengan jin, kemudian minta bantuan jin untuk keperluan tertentu agar gampang memperolehnya , selanjutnya ia terikat kepada jin di maksud, lalu menganggapnya setaraf dengan Allah.

dan Mereka itu, orang-orang Musyrik, menjadian jin sebagai sekutu Allah , padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin tu ... terjemah QS 6: 100.

mengherankan memang. Para jin tak pernah mengaku sebagai tuhan yang musti disembah, tidak perah memerintahkan Manusia menyembah kepadaya, dan tidak pernah pula melarang, orang mempertuhakan tuhan-tuhan yang lain. Tapi masih juga ada manusia mau mempertuhankan-nya.

Syaithon

Menyembah syaithon berarti mengikuti, menyukai dan menjadikanya sebagi teman, Penyembahan Kepada syaithon lebih berdasar da bermotifkan kesenangan kepada bujuk rayunya ketimbang berdasar rasa takut dan tunduk kepadanya. Syaithan dan Iblis adalah sama. Sebab keduanya merupakan musuh besar manusia. Iblis berasal dari golongan Jin Kafir, sedangka syaithan adalah keturunan Iblis ( lihat Al- Qur'an surat 18: 50).

Syaithan itu telah dicap Allah dengan beberapa cap: ar-rajiim ( terkutuk) kafuur( sangat kafir) 'aashi( pembangkang) . mariid( sangat jahat) ini secara vertikal. terhadap manusia( horizontal) telah dijelaskan oeh al-Quran bahwa syaithan itu musuh besar , tidak sudi menolong ( khadzul) dan selalu menggoda dari jarak dekat ( goriin) Mereka mempunya program kerja ( khutuwaat) guna menggoda dan menyesatkan umat manusia di dunia kini dan memerosokkan mereka kedalam neraka di akhirat nanti. Sungguhpun begitu, ternyata banyak sekali manusia yang mempertuhankan syaithan.

Thaghut.

Dalam al-Qur'an dijumpai 8 buah kata thaghut. dari tujuh riwayat ( hadits) dapat di simpulkan bahwa arti istilah Thaghut ialah manusia- Iblis atau manusia -jin yang memanfaatkan kehebatanya untuk menyesatkan orang dari jalan Allah, seraya membela orang-orang kafir dan musyrik. Dia menaklukan orang lain dengan kekuatan syaithan atau jin yang telah menguasai dirinya . Orang yang demikian adalah Thoghut, apapun jabatan dan kedudukannya di dalam masyarakat.

Jadi Tuhan thogut adalah manusia juga. Ia di pertuhankan karena kehebatan dan kesaktian yang di jadikannya modal dasar untuk menguasai dan memperbudak orang lain.

Ashnam dan Awtsan

Ashnam adalah patung-patung yang terbuat dari kayu dan batu , terlepas apakah berupa gambar hewan, manusia atau lainnya. Sedangkan Awtsan adalah patung patung yang terbuat dari bahan yang di masak dan di cairlah lebih dahulu, seperti tembaga, emas , perak, timah, Dll.

Patung-patung ini di sembah -sujudi karena dioduga di dalamnya terdapat kekuatan ghaib atau terdapat " tuhan" Penyembahan kepadanya di dasarkankan atas hasrat untuk mendapatkan manfaat dan pertolongan . Para penyembah ashnam dan awtsan umumnya mengatakan ada kekuatsn ghaib dalam patung-patung itu yang dapat mengabulkan pinta mereka. Meski patung-patung itu tergantung sepenuhnya kepada manusia penyembahnya meski tak dapat bergerak dan berpindah tempat sendiri. tanpa digerakan atau di pindahkan oleh si penyembahnya, tapi masih juda di anggap Tuhan.

Astaghfirullaah, na'uudzu billahi min dzaalik

Itulah lima alternatif Tuhan yang masih dan akan terus di pertuhankan dan di sembah-sujudi oleh manusia. Islam memerintahkan orang menyembah dan mempertuhankan Allah Swt yang telah menyatkan: bahwa tuhan-tuhan selainNya adalah ciptaanNya. Ciptaan atau makhluk pastilah bukan pencipta. yang bukan pencipta, Pastilah bukan tuhan yang Sebenarnya.

HM Nabhan Husein (buku :Reformasi Iman)

10/30/2009

TAQDIR MENURUT AL-QUR'AN

" Dan Dia( Allah) telah menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan di tetapkan-Nya manzilah-manzilah bulan agar kamu tahu bilangan tahun dan perhitungan (bulan). Tidaklah Allah Mencipta yang demikian , melainkan dengan hak.Dia menjelaskan Tanda-tanda kepada kaum yang mau mengetahui.( terj Q.S. 10:5)
Pada ayat ini kita dapati kata Qoddara yang di terjemahkan ' menetapkan' yakni menetapkan lingkar peredaran bulan dan stasiun-stasiunnya mengelilingi bumi qoddara-yaqaddiru-taqdir
Dalam Qur'an ada 13 buah kata qoddara dan 5 buah kata taqdir( taqdir-menurut ejaan Indonesia) termaktub pada surat al -Furqon ayat 2, al-Insan ayat 16, al-An'am ayat 96, Yasin ayat 38, dan surat Fushilat ayat 12.
Empat dari lima ayat tersebut menegaskan bahwa taqdir ialah ketetapan-ketetapan Allah yang pasti berlaku pada seluruh dan setiap mahluk.

Makanya pemahaman Taqdir itu tidak boleh di batasi sebagai berkenaan dengan manusia saja. Sebab manusia hanyalah bagian kecil dari alam raya ciptaan Allah. sedangkan taqdir justru berkenaan dengan langit, bumi, matahari, bulan, dan tiap-tiap makhluk. Manusia terdiri dari unsur-unsur fisik jasad/materi, hayat/nyawa, dan ruh. Maka pada setiap unsur itu berlaku taqdir-taqdir. pada unsur air yang ada pada jasad manusia berlaku takdir-taqdir Allah mengenai air. Pada unsur tanah yang menjadi jasad kita berlaku taqdir-taqdir Allah mengenai tanah. Pada unsur ruh pun berlaku taqdir-taqdir.
Putaran matahari pada porosnya itu adalah taqdir. Silih berganti malam dan siang adalah taqdir. Langit dan tujuh lapisnya itu juga taqdir. adanya dan beredarnya bintang-bintang itu juga taqdir. bahkan pada sebutir pasirpun pasti ada dan berlaku taqdir-taqdir Allah.

Takdir-takdir yang berlaku pada tiap sesuatu tidak dapat di ubah , tidak dapat di hapuskan, dan tidak dapat di batalkan oleh makhluk apapun. Malaikat. Jin, Iblis dan juga manusia tidak ada yang dapat membatalkan, atau tidak memberlakukan takdir-takdir itu sedetikpun, dengan cara dan kekuatan apapun . Setiap makhluk tidak dapat menolak takdr-takdir yang telah di tetapkan Allah. Doa dan Sodaqoh juga tidak dapat membatalkan atau menolak takdir-takdir. Berdoa agar tujuh lapis langit itu di ubah, misalnya, bukan saja tidak benar dan tidak di kabulkan, tapi juga menentang takdir yang telah ditetapkan untuk langit. Begitu juga ber do'a agar takdir matahari berputar itu di ubah menjadi tidak berputar, merupakan do'a yang tidak benar dan tidak di kabulkan . Do'a seperti yang di contohkan ini sama artinya dengan mohon Allah mengiamatkan alam raya ini untuk selanjutnya di tetapkan takdir-takdir yang baru.

Penyempitan dan kesalahan fatal dalam pemahaman taqdir karena hanya di kaitkan dengan kehidupan manusia sering di bela dengan alasan yang se olah-olah benar, padahal hanya sepele dan sembarangan. Akibatnya bertumpuk dua kesalahaan. Kemahakuasaan Allah untuk berbuat sekehendaknya atau untuk memberi keistimewaan kepada orang-orang tertentu di jadikan alasan untuk berdoa boleh memohon hal-hal diluar takdir. dengan dalih kemahakuasaan Allah. Maka segala macam doa boleh di mohonkan, termasuk meminta sesuatu yang luar biasa, dikabulkan atau tidak itu terserah kepada Allah, katanya.

Dalih demikian acap kali terdengar . Tetapi ketidak benarannya dapat di lihat melalui kritik berikut ini:
1.Doa agar Allah merubah alam semesta yang berarti pula merubah takdir-takdir yang telahditetapkan, jelas merupakan doa yang tidak diajarkan dalam Islam, di samping tidak di kabulkan. Bukankah doa-doa yang termaktub dalm al-Qur'an dan hadits-hadits tidak ada yang begitu.

2.Takdir-takdir bagi setiap makhluk yang telah di tetapkan Allah sejak saat penciptaan hanya akan mengalami perubahan melalui peristiwa kiamat , dimana bumi dan langit dengan segala isinya di ganti Allah dengan bumi dan langit baru, sebagai mana dinyatakan Qur'an: " yaitu pada hari di gantinya bumi ini dengan bumi lain dan demikian pula langit" terjemah QS 14: 48

3.Ruang lingkup objek doa hanyalah bekenaan dengan segala sesuatu yang masuk dalam lingkup Qodho dan Qodar saja. Tidak mencakup hal-hal yang berkenaan dengan Taqdir. Apa-apa yang bersifat Taqdiriyah merupakan hal yang di luar jangkauan do'a manusia maupun makhluk-makhluk tak kasat mata seperti, Malaikat , Jin dan Iblis. Iblis sekalipun tidak pernah mohon agar di adakan perubahan takdir-takdir. ia hanya mohon di panjangkan umur hingga alam semesta di kiamatkan, supaya punya waktu dan kesempatan yang sangat luas untuk menggoda dan menyesatkan manusia.

4.Kehendak dan kekuasaan Allah tak terbatas. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu yang sudah kita ketahui (ma'luumaat) dan belum kita ketahui (majhuulaat) Juga meliputi segala sesuatu yang belum ia ciptakan lengkap dengan takdir-takdirnya, dan segala sesuatu yang belum ia ciptakan dan belum di tetapkan takdir-takdirnya. Allah sedikitpun tidak tergantung kepada kehendak, keinginan, dan doa-doa manusia atau makhluk-makhluk lainnya.

Penciptaan dan Pentakdiran
Ayat-ayat Qur'an sering menyebut " Penciptaan " ( al-khalqu) bersamaan dengan menyebut" Pentakdiran" ( at-taqdir). Ini menunjukan penciptaan sesuatu tidaklah terpisah dari penetapan takdir-takdirnya, Tiap - tiap Allah Mencipta, berarti ia Mentakdirkan pada waktu yang sama.
salah satu Kemukjijatan al-Qur'an ialah penggunaan kata-kata secara tepat dan sangat cermat. Kata Taqdir di pergunakan dalam konteks yang berbeda dengan pengguanaan kata Qodho dan Qodar.

H.M. Nabhan Husein (buku : Reformasi rukun Iman)

10/27/2009

TITIK TOLAK MENGENAL ALLAH

Hampir semua orang Islam Indonesia mengenali Allah (ma’rifatullah) lewat rumusan teologi Asy’ariyah dengan sifat 20-nya, yaitu wujud, qidam, baqa’, mukhalafuthu lil hawadits, qiyamuhu binafsihi, wahdaniyat, qudrat, irodat, ilmu,hayat,sama’,bashar, kalam dan seterusnya. Ini disebabkan oleh buku-buku akidah yang dipelajari di sekolah, madrasah dan forum-forum pengajaran lainnya, memang mengajarkan demikian. Di pesantren-pesantren pun sama, meski buku-bukunya berbahasa Arab, seperti buku Tijan ad-Darari, Kifayatul Awam, Ummul Barahin dan lain-lain. Buku-buku akidah berbahasa Indonesia ditulis berdasarkan buku-buku berbahasa Arab dimaksud. Maka isinya tentu sama. Akidah sifat 20 ini sudah ada dan sudah dianut umat Islam sejak lama sekali, setidaknya sejak diajarkan oleh Abu Hasan Asy’ari 1.100 tahun silam di Bashrah Irak. Abu Hasan Asy’ari sendiri adalah seorang ulama ilmu kalam. Beliau adalah Ali bin Ismail bin Abu Basyar al-Asy’ari, lahir tahun 260 H dan wafat tahun 324 H. Hingga berumur 40 tahun beliau menganut teologi Mu’tazilah yang dikomandani Ali al-Jubba’I (235-307 H), ayah tiri Abu Hasan Asy’ari dan menjadi tokoh besar sepeninggal al-Jubba’i. Pada usia 40 tahun itu Abu Hasan Asy’ari menyatakan keluar dari mazhab Mu’tazilah, lalu menyusun dan mengajarkan teologinya sendiri, teologi Asy’ariyah.

Akidah ketuhanan Mu’tazilah bertumpu pada 5 dasar/ushuluddin/rukun iman yaitu Tauhid, Keadilan Tuhan, Wa’ad Wa’id, Manzilah bainal manzilatain dan amar ma’ruf nahyi munkar. Rukun Iman versi Mu’tazilah serta penjabarannya itulah yang kemudian ditolak Abu Hasan Asy’ari. Konon Abu Hasan Asy’ari hendak kembali kepada Al Qur’an dan Hadits saja sebagaimana dianut oleh para Ulama Sunnah. Tetapi kemudian beliau merumuskan akidah sifat 20, hal mana ditentang oleh ulama-ulama Tafsir dan Hadits masa itu dan masa-masa berikutnya. Tiga-empat tahun diakhir hayatnya, Abu Hasan Asy’ari mengoreksi kembali teologi sifat 20-nya itu, lalu menyatakan ikut sepenuhnya kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul, tobatnya yang terakhir ini dibuktikan dengan dikarangnya buku al-Ibanah’an Ushul ad-Dinayah.
Kalau Abu Hasan Asy’ari telah rujuk kepada al-qur’an dan Hadits dan telah mengoreksi akidah sifat 20, maka umat Islam penganut teologi asy’ariyah pun seharusnya ikut sikap dan pilihan beliau itu tanpa perlu bersikukuh dan fanatic buta. Kembali kepada akidah yang diajarkan al-Qur’an dan Hadits adalah wajib hukumnya. Ini pasti dan tak terbantahkan. Tapi bagaimana caranya ? berikut jawaban pertanyaan ini.

Tiga Pilihan Qur’ani
Surat pertama diturunkan ialah al-Alaq. Ayat pertama diturunkan ialah lima ayat awal surat al-Alaq itu. Dari sinilah Allah memulai pewahyuan dan pengajaran agama Islam. Dari sinilah pula kita mesti memulai kajian dan pedalaman akidah Islami. “Bacalah nama Tuhanmu yang telah mencipta. Menciptakan manusia dari fase ‘alaqah. Bacalah itu, dan Tuhanmu adalah Maha Pemberi, yang telah mengajari (manusia) lewat qolam ; mengajari manusia apa yang belum ia ketahui. Tuhan ialah Pencipta (al-Kholiq), Tuhan ialah Maha Pemberi (al-Akrom/al-Karim) Tuhan ialah Maha Mengetahi (al-‘Alim/al-Allaam). Akhir surat al-Alaq memerintahkan agar Nabi Saw dan kita semua sujud dan mendekatkan diri kepada al-Kholiq, al-Akram/al-Karim,al-alim/al-Allaam itu lain tidak.

Jadi pilihan pertama ialah menyusun akidah, mengenal dan mengimani Tuhan sebagai al-Kholiq/al-Khollaq (Maha Pencipta), al-Akram/al-Karim (Maha Pemberi),al-alim/al-Allaam (Maha Mengetahui). Ketiga asma al-husna ini diuraikan oleh ayat-ayat dalam surat-surat lain yang turun kemudian Al-Kholiq/al-Khollaq dijabarkan oleh ayat-ayat yang mengandung kata : kholaqo (79 buah), kholaqtu (4 buah), Kholaqta (7 buah), kholaqna (41 Buah), ; yakhluqu (12 buah), kholiq (8 buah), khollaq (2 buah). Totalnya 153, menjelaskan apa-apa yang telah diciptakan, sedang diciptakan dan akan/terus diciptakan. Al –Akrom/al-Karim dijabarkan oleh ayat 40 surat 27, ayat 49 surat 44, ayat 6 surat 82 dan ayat 3 surat 96.Al-Alim/al-Allaam dijabarkan oleh ayat-ayat antara lain : surat 2 ayat 30, 33, 77: surat 5 ayat 97,98 surat 6 ayat 3 , 59 dan lain-lain.
Pilihan kedua ialah menyusun akidah mengenal dan mengimani Tuhan menurut dan mulai dari al-Fatihah, sebagai surat pertama dalam mushaf, dan surat yang turun urutan ke 5 menurut kronologi turun. Maka Tuhan ialah Allah, tuhan semesta Alam (Rabbu’l-alamin), Maha Pengasih dan Penyayang (ar-Rahman, ar-Rahim) dan al-Malik. Dalam surat al Fatihah Allah menjelaskan bahwa Nabi Saw, kita kaum muslimin dan bahkan semua manusia seharusnya hanya menyembah kepada Allah Rabbu’l-alamin yang rahman dan rahim dan menguasai segala hukum serta kekuasaan.
Pilihan ketiga ialah mengkombinasikan dua surat tersebut (al-Alaq dan al-Fatihah). Dari kerangka diatas kita sudah dapat menyusun akidah ketuhanan yang sesuai dengan petunjuk langsung dari Allah itu sendiri. Tuhan yang sesungguhnya ialah Allah, Maha Pencipta, Maha Memberi, Maha Mengetahui, Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha menguasai segala hukum dan segala kekuasaan. (Allahu’l- Kholiqu ‘l-Karimu ‘l-alimu’ r-Rahmanu ‘r-Rahimu ‘l-Maliku. Dialah Tuhan semesta alam (Rabbu’l-alamin), karena Dialah Pencipta semesta alam ini. Jadi kita mulai dari 7 asma’. Allah adalah lafzhu’l-Jalalah dan Isim A’zham dan 6 asma berikutnya adalah nama diri yang hakiki dan asasi.

Hikmah

Rasulullah Nabiyullah Muhammad Saw tidak banyak bicara soal akidah ketuhanan. Hal ini terbukti oleh sedikit atau sangat sedikitnya hadits-hadits yang mengurai dan menafsir asma’ al-husna. Beliau mengambil dan memegang teguh apa adanya penjelasan wahyu-wahyu yang turun berkenaan dengan akidah ketuhanan ini. Ketika menyabdakan hadits riwayat hasan mengenai firqah-firqah dunia-dimana Yahudi menjadi 71 firqah, Nasrani menjadi 72 firqah dan umat Islam pecah menjadi 73 sehingga berjumlah 216 firqah – baginda Nabi Saw menyatakan hanya satu yang selamat, yaitu man kaana ‘alaa mitsli maa ana’alaihi’l-yauma wa ash-habii, orang-orang yang menganuti agama Allah seperti Nabi dan para sahabatnya dewasa itu. Nabi dan para sahabatnya menerima sepenuhnya dan tunduk sepenuhnya kepada ayat-ayat Allah yang diturunkan sedikit demi sedikit kepada mereka dalam tempo 23 tahun.

Mengapa kita terbuai oleh pemikiran teologis para filsafat (filosof), mengapa kita harus terlena oleh pemikiran para ahli tasawuf (sufi), jika kita memang ber-uswah-hasanah dan berqadwah kepada Nabi Saw? Abu Bakar Shiddiq ra dan Ali ra telah memberikan contoh sikap dan kaidah dalam berketuhanan ini, persis mengikuti Nabi. Araftu robbii bi robbii, law laa rabbi maa ‘araftu robbii, tegasnya Aku kenal Tuhanku (melalui ayat-ayat) tuhanku sendiri. Kalau tidak melalui itu, tentulah aku tak kenal Tuhanku.
Filosof-folosof muslim seperti Ibnu Sina, al-Kindi, al-Farabi ; teolog-teolog muslim seperti Abu Ali al-Jubba’I, Abu Hasan Asy’ari, Abu Mansur al-Maturidi ; dan sufi-sufi seperti al-Hallaj, Abu Jazid al-Bisthami, Ibnu ‘Arabi dan Ibnu Sib’in, semua telah terpengaruhi oleh cara berfikir klasik (Yunani). Imam Abu Hamid al-Ghazali telah mencoba merekontruksi akidah dengan mebersihkan pengaruh tersebut, dilanjutkan Imam Ibnu Taymiah dan diformulasikan oleh Muhammad Iqbal. Mengapa kita-kita di zaman ini membekukan ide brilian ketiga ulama besar tersebut?

HM Nabhan Husein (Tafsir, Buletin Dakwah Edisi 7/I/23-10-2009).


10/22/2009

TAQWA

(Dari Potensi ke Aktualita, Dari Idealita ke Realita)

Ada 17 buah kata taqwa di dalam al Qur’an. Asal usulnya ialah dari kata waqaa-yaqii-wiqaayah/waqyan/waqan-waaq-qi, arti aslinya ialah memelihara, menyelamatkan, menghindarkan, menghalangi dari sesuatu bahaya. Berubah menjadi ittaqaa – yattaqii – ittiqaa’a/tauqiyan/taqwa-muttaqi-ittaqi, artinya takutilah, hindarkanlah. Ditinjau dari urutan turun surat-surat al qur’an, kata taqwa muncul pertama kalinya dalam surat al Muddatsir ayat 56, yakni dalam ungkapan ahlu’-taqwa. Kemudian muncul kedua kalinya pada surat as-Syams yang diperlawankan dengan kata fujur, (fa alhamahaa fujuurohaa wa taqwaahaa).

Potensi dan Aktualita
Ketika menafsirkan istilah taqwa dan fujur al –Alusi dalam Tafsir Ruhu’lMa’ani berkomentar :” potensi taqwa dan fujur diilhamkan Allah Swt setelah sempurna proses penciptaan bayi dalam rahim ibunya, yaitu setelah lengkap fisik, jasmaninya dan sempurna potensi-potensi rohaninya termasuk fikir. Potensi taqwa dan potensi fujur itu ialah hasrat untuk ta’at kepada Allah dan hasrat untuk maksiat”. Jadi sejak penciptaan dalam rahim ibu, pada diri kita telah terdapat dua potensi berlawanan yang menimbulkan suatu tegangan yang berlaku sepanjang umur (tegangan inheren yang konstan) antara dorongan dan hasrat untuk patuh dan untuk tidak patuh kepada Allah Swt.

Siapa yang menuntun dorongan dan hasrat untuk patuh kepada Allah itu?
Ya, yang menuntunnya Allah sendiri. Karena itu Allah menyebut dirinya sebagai ahlu’l taqwa (Pemilik tutunan taqwa)
Apa media penuntunan itu?
Banyak adanya. Pertama, daya-daya yang telah disusun diinherenkan (dipadukan dan dilekatkan) dalam diri anak manusia (media-media internal). Kedua, pengaruh lingkungan alamiah yang disebut di awal surat as-Syams itu sendiri. Sinar matahari yang menyinari bumi dari pagi hingga petang, sinar matahari yang dipantulkan bulan diwaktu malam, terangnya sinar matahari diterima bumi di waktu siang, gelapnya malam, peredaran benda-benda langit khususnya tata-surya, terhamparnya bumi, semuanya itu merupakan media-media untuk pemberian tuntunan (media-media eksternal). Ketiga wahyu-wahyu dalam kitab suci.

Allah Swt tidak menuntun potensi fujur hingga diaktualisasikan menjadi sikap durhaka kepada Allah. Media ketiga itu tidak menuntun orang untuk berlaku fujur. Sikap dan laku fujur disebabkan ketidak-sejalanan dan ketidak-singkronan antara media-media internal dengan media-media eksternal. Umpamanya, fikiran menganggap matahari sebagai tuhan itu juga tidak betul. Di sini muncul kesesatan dan kefujuran. Ambillah contoh-contoh lain yang sama.

Perintah Taqwa
Dalam al Qur’an ada 54 kali perintah taqwa, dalam ungkapan ittaqullah (takutlah kepada Allah). Jika potensi taqwa yang melekat pada diri tadi melemah atau membeku atau mati karena tertutup oleh ketidak-mengertian atau salah anggapan akan alam lingkungan, maka perintah-perintah taqwa yang 54 itu mengggugahnya kembali untuk disegarkan dan diaktualkan. “Takutlah kamu kepada Allah” (ittaqullah) 54 kali diserukan kepada orang Islam, “takutlah kepada Tuhan yang telah menciptakan kamu” (ittaquu robbakum) 3 kali diserukan kepada seluruh manusia. “Takutlah kamu akan hari kematian” (ittaquu yauman…) dan “takutlah kamu kepada siksa neraka” (ittaquu ‘n-naar). Perintah takutlah kepada Allah (ittaqullah) sangat beralasan, karena terkait fitra kejadian dan kemungkinan melemahnya potensi taqwa itu sebelum sempat teraktualisasikan, atau diambil-alih oleh potensi kedurhakaan. Karena beralasan, maka Allah menurunkan ungkapan la’alla kum ttattaquun dan la’alla um yattaquun, yang masing-masing diulangi 6 kali dalam al Qur’an. Ungkapan pertama ditujukan kepada orang-orang yang berada dalam lingkaran keimanan agar lebih meningkatkan kualitas ketaqwaan dan ungkapan kedua ditujukan kepada setiap orang/ayyuhannaas agar menumbuhkan taqwa.

Definisi-definisi Taqwa
Diriwayatkan bahwa Kholifah Ali bin Abdi Manaf pernah mendifinisikan Taqwa sebagai berikut : at-taqwaa arba’atun : al-khoufu mina’l-jaliil, wa’l-‘amalu bit tanziil, wa ar-ridhaa bil qobiil, wa’l-isti’daadu liyaumi’-robiil. Taqwa itu terdiri dari empat : takut kepada Allah al-Jalil, beramal menurut Qur’an/Tanzil, ridho kepada rezeki yang sedikit, dan bersiap-siap menjalani hari keberangkatan/kematian. Definisi ini menjurus ke orangnya, bukan ke konsep taqwanya. Lagi pula empat kriterianya ini masih memerlukan penjelasan lebih lanjut ; apa dan bagaimana yang dimaksud dengan : takut kepada al-Jalil, beramal menurut tanzil, rela menerima rezeki yang sedikit, apa dan bagaimana siap-tidaknya menghadapi kematian. Kata-kata Ali bin Abdi Manaf ini lebih merupakan kata hikmah dari pada sebuah definisi. Tidak salah memang, tapi belum menyelesaikan soal substansialnya.
Beberapa Ulama merumuskan definisi lain, yaitu : at-taqwaa hiya ‘ibaratun ‘ani ‘m-titsaali awaamiri’l-Laahi wa’j-tinaabi nawaahiihi sirran wa ‘alaniyatun, bermakna :menjauhi larangan-laranganNya. Definisi ini menyangkut konsepsi taqwa, bukan menyangkut orangnya. Inilah pegangan banyak orang sekarang. Kalau ada satu-dua perintah dan satu-dua larangan yang lolos, apakah gagal sama sekali menjadi orang taqwa?. Berapa jumlah perintah Allah yang harus dikerjakan dan berapa larangan yang harus dijauhi itu?. Belum pernah ada penjelasan detail. Konsep taqwa diidealisir sehingga mengawang-awang dan akibatnya sulit direalisasikan masyarakat umum/awam.

Menuju Realisasi
AL-Qur’an menyodorkan definisi-uraian (rosam) dengan cara merinci ciri-ciri orang yang taqwa al-muttaqin), sebagai berikut:
1.Beriman kepada 6 rukun Iman
2.Menginfakkan harta dengan rela hati bagi keperluan keluarga, anak-anak yatim, orang miskin, ibnus sabil, orang yang sangat perlu bantuan dan hamba sahaya yang memperjuangkan kemerdekaan.
3. Mendirikan sholat
4. Menunaikan zakat-zakat
5. Menepati janji
6. Sabar dalam segala keadaan
7. Menafkahkan harta di waktu lapang maupun sulit
8. Memaafkan orang yang minta maaf
9. Mengendalikan diri dengan dzikir dan istighfar
10. Tidak larut dalam kesalahan dan dosa
11. Tidak menganiaya diri sendiri
12. Berjihad dan berperang di jalan Allah
13. Memegang kebenaran dan menyebarkannya
14. Menegakkan kebenaran
15. Takut akan azab Allah
16. Tidak berbuat kerusakan di muka bumi
17. Mengagungkan ajaran Islam umumnya dan syiar haji khususnya

Ciri-ciri ini dimiliki oleh rata-rata orang beriman. Hanya kualitasnya saja yang berbeda-beda, ada yang baru tipis saja dan ada yang tebal, hal mana menentukan tingkatan ketaqwaan.Jadi tingkat ketaqwaan tidak lagi ditentukan oleh kuantitas, melainkan oleh kualitas. Intropeksilah diri masing-masing dan yakinilah bahwa ketaqwaan dapat ditingkatkan kualitasnya.
Shiyamu Romadhan yang baru lalu merupakan training untuk mampu memeprtahankan kuantitas dan meningkatkan kualitas ketaqwaan 11 bulan kedepan. Shiyamu Romadhan bukanlah puncak ketaqwaan, melainkan latihan yang lengkap terkait dengan 20 ciri tersebut.

Lawan taqwa ialah Fujur. Ciri manusia fujur adalah :
1. Menolak agama Allah yang dibawa oleh para Rasul dan para Nabi
2. Mempertuhankan tuhan-tuhan palsu
3. Menghambakan diri kepada berhala-hala, berupa patung orang-orang yang soleh zaman dahulu
4. Dari waktu ke waktu hidup dan kehidupannya dibungkus kepalsuan dan tipu daya
5. Menyesatkan orang dari agama yang benar
6. Bila diajak untuk takut kepada Allah, ia menolak seraya membangga-banggakan dosa-dosa
7. Mengangkat pemimpin orang yang semakinkaya harta dan semakin kaya massa tapi semakin merugikan dirinya (pemimpin) dan merugikan orang lain (rakyat)
Agama Allah mengajarkan Tauhid Rububiyah, yaitu Tuhan sebagai Pencipta/al –Kholiq alam semesta dan Tauhid Uluhiyah dimana penyembahan/peribadatan hanya ditujukan kepada Sang Kholiq.

Hafid A. Ghani

10/21/2009

ARTI ISTIGHFAR

Kata istighfara-yastaghfiru- istighfar berarti menuntut atau meminta atau mohon ampunan (minta ampun). Kata Astaghfirullah artinya minta atau mohon ampunan dari Allah. Kata Allaahumma’ghfirlii berarti Ya Allah, ampuni aku.
Apa yang diminta ampun itu ?
Yang kita mintakan ampunan ialah hukuman atau azab atau siksaan, lain tidak. Kalau kita minta ampunan, berarti minta agar tidak dihukum, tidak diazab, tidak disiksa. Kalau kita minta ampunan Allah, berarti minta agar Allah tidak menurunkan hukuman, tidak menurunkan azab, tidak menyiksa.
Apa sebabnya orang dihukum, diazab atau disiksa oleh Allah ?
Sebabnya ialah karena orang bersangkutan melakukan pelanggaran terhadap hukum Allah atau terhadap ketentuan Allah. Tidak melaksanakan sesuatu yang diwajibkan Allah atau melakukan sesuatu yang diharamkan Allah, ini berarti melakukan pelanggaran lahir batin. Menolak atau menantang apa-apa yang telah ditetapkan Allah, itu semua berarti melakukan pelanggaran batin, pelanggaran dihati. Pelanggaran disebut juga jarimah atau maksiat. Setiap pelanggaran (jarimah/maksiat) pasti mengakibatkan atau mendatangkan hukuman atau siksa atau azab dari Allah. Azab tersebut diturunkan kepada si pelanggar dalam hidupnya di dunia sekarang ini, atau di alam kubur, atau di neraka akhirat nanti. Azab yang diturunkan di dunia sekarang ini atau di alam kubur disebut Azab Adna, sedangkan azab yang diberikan di neraka akhirat nanti disebut Azab Akbar.
"Dan sesungguhnya Kami pasti merasakan kepada mereka azab adna (azab (duniawi) sebelum azab akbar (azab neraka akhirat), agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. 32:21)

Kalau seseorang melakukan pelanggaran (jarimah/maksiat), berarti dia terancam azab adna (azab di dunia). Tiap-tiap pelanggaran pastilah mengakibatkan azab adna. Satu pelanggaran yang dilakukan di dunia ini, mengakibatkan satu azab adna. Sepuluh pelanggaran 10 azab adna. Banyak pelanggaran dilakukan, mengakibatkan banyak azab adna bagi yang bersangkutan di dunia ini. Agar tidak mendapat hukuman/siksa/azab di dunia ini, maka si pelaku pelanggaran itu perlu memohon ampunan Allah, perlu beristighfar untuk setiap pelanggaran yang terlanjur ia kerjakan, baik pelanggaran lahir batin maupun pelanggaran batin.

Kategori-kategori

Ada 6 (enam) kategori pelanggaran (jarimah/maksiat), sesuai dengan istilah yang disebut dalam al Qur’an, yaitu :
1. Pelanggaran terberat dan terbesar. Ini disebut khoti’ah/khothooyaa/khothi’at. Obyeknya ialah sikap terhadap Allah, seperti sikap meremehkan Allah, sikap tidak mau tahu terhadap hukum-hukum Allah, dan anggapan-anggapan bathil terhadap Allah.
2. Pelanggaran Berat dan Besar, ini disebut dzanbun/dzunuub. Obyeknya ialah perintah-perintah wajib dan larangan-larangan Allah yang haram. Contohnya menolak atau tidak mengerjakan perintah sholat lima waktu yang telah diwajibkan dan mengerjakan larangan Allah seperti menyekutukan Allah atau membunuh jiwa tanpa hak padahal telah diharamkan
3. Pelanggaran Besar. Ini disebut Suu’. Obyeknya ialah cara-cara dan ketentuan. Contohnya sholat tidak menghadap kiblat Masjidil Haram, padahal Allah telah menurunkan ketentuanNya dan telah menetapkan cara-cara sholat.
4. Pelanggaran Berat. Ini disebut itsmun/aatsaam. Obyeknya ialah hukum-hukum Allah yang terkait dengan hak milik manusia, seperti merampok harta orang, mencuri, berzina, menipu.
5. Pelanggaran kecil. Ini disebut lamam. Seperti berpelukan atau berciuman dengan wanita yang bukan istri syah.
6. Pelanggaran ringan. Ini disebut sayi’ah/sayyi’aat. Contohnya melihat aurat orang, menonton film porno.

Keenam kategori pelanggaran (jarimah/maksiat) ini diancam dengan azab adna di dunia per pelanggaran dan azab akbar di akhirat yang diberikan setelah melalui perhitungan akumulatif dan setelah diberi bobot di Alam Mahsyar. Azab Adna diturunkan per pelanggaran. Azab Akbar ditetapkan setelah pengadilan di dalam nereka ukhrawi.

Lingkup Dan Daya Laku Istighfar

Istighfar (mohon ampunan) diperlukan dan diperintahkan kepada mukmin manakala ia melakukan pelanggaran kategori nomor 1 hingga 4. Makanya lingkup dan berlakunya istighfar ialah untuk setiap khothi’ah/khothooyaa/khothi’at, untuk setiap dzanbun/dzunub, untuk setiap suu’ dan untuk setiap itsm. Ayat-ayat al Qur’an menyusunnya demikian:

Dan (Allah) Yang amat kuinginkan perkenan-Nya mengampuni (hukuman) khoti’ahku pada hari Diin. (Qs.26:82)

Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni (hukuman) khothooya kami ….. (Qs.20:73)

Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni (hukuman) dzunub kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. (Qs.46:31)

Dan tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah (hukuman) dzunub kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan …….. (Qs.3:147)

Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan (suu’) dan menganiaya dirinya (sengaja berbuat salah), kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Mengampuni (hukuman) lagi Maha Penyayang. (Qs.4:110)

…. bahwasanya barang siapa di antara kamu berbuat kejahatan (suu’) lantaran kejahilan, kemudian ia bertobat setelah mengerjakan suu’ itu dan melakukan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs.6:54)

….. Maka barang siapa memakan(makanan yang telah diharamkan itu) karena terpaksa akibat kelaparan, bukan sengaja berbuat pelanggaran (itsm), sesungguhnya Allah Maha Mengampuni lagi Maha Meyayangi. (Qs.5:3)

Istighfar (mohon ampunan hukuman) tidak diperlukan dan tidak berlaku untuk pelanggaran kategori 5 dan 6. Dua ini tergolong pelanggaran kecil dan ringan. Maka Allah memerintahkan kepada setiap mukmin yang terlanjur melakukan harus memohon penghapusan siksanya (mohon kaffarah) atas siksaan akibat lamam dan sayi’at. Al Qur’an telah dengan pasti mengatakan demikian.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang mengajak beriman (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu", maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah (hukuman) bagi kami atas dzunub kami dan hapuskanlah dari kami (hukuman) sayi’at kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. (Qs.3:193)

Jika kamu menjauhi larangan-larangan besar, niscaya Kami hapus (hukuman-hukuman) karena sayi’at kamu……... (Qs.4:31)

Buku Malaikat Tidak Bisa Hapus
Istighfar (mohon ampunan) hanyalah berlaku untuk mohon ampunan hukuman duniawi. Baik permohonan ampunan maupun permohonan penghapusan, dua-duanya tidak bisa menghapus catatan amal baik dan buruk yang ada dalam Buku Catatan Amal yang ditulis oleh malaikat-malaikat pencatat (Kiroman-Katibin dan Roqib-Atid). Buku catatan malaikat-malaikat itu memang tidak bisa dihapuskan isinya, sebab Buku Catatan itu kelak diberikan kepada setiap orang ketika sudah berada di Alam Mahsyar. Isi buku itu akan dihisab, dihitung dan dijumlahkan seluruhnya.Kemudian dibersihkan, lalu diberikan nilai dan bobot. Al Qur’an dengan tegas mengatakan :

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan perbuatannya pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. (Qs.17:13)

Ingatlah suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil setiap orang dengan pemimpinnya; dan barang siapa yang diberikan bukunya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca sendiri Buku-nya itu, dan mereka tidak akan dianiaya sedikit pun. (Qs.17:71)


Nabhan Husein (Buletin Tafsir Edisi 4/I/24-07-09